La Negsatu di LGPP 2012 Kwarcab Malang

November 23, 2012 at 12:29 pm Tinggalkan komentar

Sebulan yang lalu, kontingen La Negsatu, mewakili Kwarran Tumpang, baru saja kembali setelah mengikuti Lomba Giat Prestasi Penggalang (LGPP) di desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading, Malang, dengan membawa ddd 16sejuta kenangan yang mengesankan. Tidak  bohong kalau orang bilang alam Lebakharjo sangatlah indah. Memang, dikelilingi bukit-bukit terjal dan hutan yang masih segar, alam Lebakharjo jelas bisa mencuci mata para pengunjungnya. Tetapi bohong bila orang berkata perjalanan ke Desa Pramuka tersebut tidak menegangkan.

Tanggal 3 Oktober 2012, dengan melewati jalan yang terjal, sempit, serta berliku-liku, diapit dengan jurang yang dalam dan keheningan malam yang mencekam, kontingan La Negsatu berangkat menuju SMP 3 Lebakharjo. Malam harinya, barulah kami sampai di lokasi. Setelah menurunkan barang bawaan dan sholat isya’, seluruh aktivis dengan mudahnya terlelap di dalam salah satu kelas di sekolah tersebut.

Keesokan harinya, tepat pukul sembilan, delapan regu dari kontingen La Negsatu, berangkat menuju Lapangan Comdeca. Kami dibagi-bagi dalam berbagai pasukan. Di ajang ini, kami bisa kembali bersua dengan para pramuka dari Kwarran maupun Kwarcab lain. Peserta diberangkatkan berdasarkan peta topografi dan petunjuk dari sandi yang diberikan panitia, dan petualangan dua hari satu malam di Lebakharjo dimulai.

Dalam lomba ini, para peserta breperan sebagai tim ekspedisi yang bretugas untuk menyebarkan amanat dari mantan presiden Soeharto. Setelah menyusuri pemukiman dan melintasi hamparan sawah, peserta diarahkan pada jalan menanjak yang panjang dan berkelok-kelok yang jelas membuat semua peserta lelah. Namun, karena salah satu mata lomba dalam GPP ini adalah speed march, mau tak mau setiap regu harus berjalan cepat mendahului regu ddd 19lain bila ingin menang. Dalam setiap beberapa km, peserta juga akan dihadapkan pada beberapa pos untuk melaksanakan mata lomba tertentu. Sampai di puncak bukit, kami bisa melihat Lebakharjo secara keseluruhan. Subhanallah, pemandangan yang disuguhkan sangat indah. Hijau segar, petak-petak sawah terhampar persegi sempurna, bersama nyiur yang melambai-lambai. Ingin rasanya duduk lama dan menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup.

Kemudian, peserta dihadapkan pada jalan menurun. Seraya berusaha agar tidak jatuh, kami juga harus berjuang mengusir serangga-serangga serta semut yang menggigit di hutan. Ditambah dengan barang bawaan yang berat dan rasa lelah, nyaris emosi seluruh peserta meledak di tengah jalan. Namun, harapan untuk bisa menampilkan yang terbaik bagi Kwarran dan kontingen mereka membuat para peserta tetap berusaha berjalan menuju garis finish. Begitu jalan menurun selesai ditapaki, kini pemandangan berganti menjadi pemukiman penduduk. Para penduduk Lebakharjo sangatlah ramah. Banyak dari mereka yang menyemangati kami, dan bahkan ada yang member air minum pada peserta. Sungguh, para penduduk di sana berjiwa pramuka seutuhnya. Namun, regu-regu yang diberangkatkan belakangan terpaksa dihentikan perjalannnya untuk sementara oleh panitia, dikarenakan waktu yang sudah larut. Setelah para peserta membangun bivak, mereka diperbolehkan untuk istirahat.

Keesokan harinya, lomba digelar kembali pada pukul delapan, berlokasi tepat di posko Desa Krikil. Para peserta mengerjakan seluruh mata lomba yang kemarin belum sempat dijalani. Lomba babak dua usai pada pukul sebelas siang, dan seluruh peserta, pembina, dan pendamping laki-laki yang beragama Islam bersiap untuk menjalani kewajiban mereka, yakni sholat Jumat.

Selepas sholat Jumat, upacara penutupan diadakan di lapangan Lebakharjo. Lapangan yang konon dipakai sebagai bumi perkemahan sewaktu event PW

Aspac tahun 1987 itu tampak luas biarpun dibanjiri ratusan pramuka penggalang dan penegak. Pembina upacara tak lain adalah wakil gubernur Jawa ddd 22Timur, Kak Syaifullah Yusuf. Setelah upacara usai, para penggalang diperbolehkan untuk menampilkan yel kontingennya masing-masing. Suasana berubah menjadi riuh. Saat itulah, kontingen La Negsatu membentuk sebuah point of center tersendiri dengan membentuk lingkaran di depan balai tamu, menampilkan yel-yel mereka.

Sepuluh menit kemudian, sesuai dengan janji panitia, diumumkan para juara dari lomba GPP. Sayangnya, La Negsatu hanya meraih juara dua putri untuk regu Anggrek Oke. Pulang dengan hati ringan, para aktivis La Negsatu membawa oleh-oleh dari Lebakharjo, baik yang berbentuk material atau berupa kenangan. Setelah beramah-tamah sebentar kepada para pramuka lainnya dan membongkar bivak, kontingen La Negsatu siap untuk pulang kembali ke Tumpang. Walau perjalanannya nyaris sama ‘parah’-nya dengan perjalanan sewaktu berangkat, tetapi seluruh komponen dari kontingen La Negsatu pulang dengan riang. Tetap semangat, La Negsatu! We are never say die!

P.S: Oh, ya. Ada yang penasaran dengan isi amanat dari Bapak Soeharto? Pecahkan dulu sandi AZ di bawah ini🙂

“WRHROR PZF YVIYZPGR, WRHOR PZF NVMTZYWR, WRHROR PZF YRMZ KVIWZAMARZM WFMRZ.”

Show Images

Show Images

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Gaung Persiapan Gelora Penggalang XI 2013 : Roobeans Gelora Penggalang XII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2012
S S R K J S M
« Jan   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Total Pengunjung

  • 93,073

%d blogger menyukai ini: